Cost of Inaction: Kerugian Nyata dari Keputusan Bisnis yang Tidak Pernah Anda Ambil

Kerugian nyata akibat menunda keputusan bisnis & cara mengatasinya agar bisnis Anda tidak jalan di tempat.

Bismillah…

Anda mungkin sudah menghitung berapa banyak uang yang hilang bulan ini karena bahan baku basi, karyawan mangkir, atau mesin espresso yang rusak tiba-tiba.

Angka-angka itu jelas terlihat di laporan laba rugi.

Tapi pernahkah Anda menghitung biaya penundaan?

Ini adalah kerugian yang timbul bukan karena Anda salah mengambil keputusan, melainkan karena Anda belum memutuskan apa-apa.

Biayanya tidak muncul sebagai satu baris di laporan keuangan. Ia tersebar di margin yang menipis, tim yang lelah, dan peluang yang lewat.

Mari kita lihat satu kasus global yang bisa dibaca dari sudut ini, lalu satu cermin dari dapur kuliner Indonesia.

Starbucks: Jeda Antara Diagnosis dan Tindakan

Pada 14 Februari 2007, Howard Schultz, yang saat itu chairman, mengirim memo kepada para eksekutif Starbucks berjudul “The Commoditization of the Starbucks Experience”.

Ia menulis bahwa serangkaian keputusan demi pertumbuhan, dari kurang dari 1.000 gerai menjadi 13.000, telah membuat pengalaman Starbucks tergerus.

Menariknya, Schultz tidak menyebut keputusan-keputusan itu salah. Soal mesin espresso otomatis, ia menyebutnya keputusan yang tepat pada waktunya. Yang terlewat adalah konsekuensinya: hilangnya “romance and theatre” dan terhalangnya pandangan pelanggan ke barista.

Schultz kembali sebagai CEO pada Januari 2008.

Pada 26 Februari 2008, Starbucks menutup sekitar 7.100 gerai miliknya di Amerika Serikat selama sekitar tiga jam, untuk melatih ulang sekitar 135.000 barista.

Starbucks tidak mengungkap berapa pendapatan yang hilang. Analis yang dikutip AP menilai dampaknya kecil dibanding biaya menutup sekitar 100 gerai yang kinerjanya buruk.

Di antara memo dan penutupan itu ada jeda sekitar setahun. Dalam periode yang lebih panjang, sahamnya turun sekitar 50 persen sejak akhir 2006.

Kita tidak bisa membuktikan bahwa jeda itu yang menyebabkan penurunan. Tapi kasus ini bisa dibaca sebagai pengingat: tindakan koreksinya sendiri relatif murah, dan yang mahal adalah waktu antara masalah terlihat dan keputusan diambil.

Cermin di Indonesia: Harga yang Ditahan di KFC Indonesia

Sekarang kita turun ke dapur kuliner Indonesia.

Pada Public Expose 29 November 2024, manajemen PT Fast Food Indonesia Tbk, pengelola KFC Indonesia, menjelaskan sejumlah faktor di balik penurunan kinerja 2023–2024. Daftarnya panjang: seruan boikot, gangguan rantai pasok, kenaikan harga bahan baku, persaingan yang makin ketat, kurs, dan melemahnya daya beli.

Salah satunya terkait harga. Direktur FAST, Wahyudi Martono, menyatakan perseroan mengambil sikap tidak menaikkan harga sejak kuartal IV/2023 hingga 2024. Akibatnya, kenaikan upah minimum tidak bisa ditransfer ke harga.

Perlu jujur soal batasannya: ini hanya satu dari beberapa faktor, dan kita tidak bisa memisahkan seberapa besar efeknya. Menahan harga juga bisa jadi keputusan yang masuk akal di tengah daya beli yang melemah dan seruan boikot.

Sebagai gambaran skala, hingga kuartal III/2024 perseroan membukukan rugi bersih Rp557,08 miliar. Jumlah gerai turun dari 762 pada akhir 2023 menjadi 715 pada 30 September 2024, dengan 47 gerai ditutup.

Angka-angka itu adalah hasil gabungan semua faktor tadi. Tapi satu hal bisa dibaca sebagai pelajaran bagi pemilik usaha: harga yang ditahan, dengan alasan yang masuk akal sekalipun, punya biaya yang terus berjalan selama ia tidak ditinjau ulang.

Bagi Anda pemilik kedai kopi, restoran, atau usaha skala UMKM, biaya penundaan bisa sangat sering hadir dalam keseharian. Misalnya:

  • Menahan harga menu padahal biaya bahan baku dan upah sudah naik berbulan-bulan, tanpa pernah menghitung ulang margin per menu.
  • Membiarkan masalah kedisiplinan staf berlarut-larut dengan dalih mencari penggantinya itu susah, sementara budaya kerja tim ikut terbentuk oleh pembiaran itu.
  • Menunda digitalisasi pembukuan dan stok opname karena sistem manual dirasa masih cukup, padahal kebocoran bisa terjadi setiap hari tanpa terlihat.

Audit Keputusan Kilat

Keraguan sering bersumber dari ketakutan membuat kesalahan. Padahal tidak memutuskan juga sebuah pilihan: membiarkan keadaan berjalan sendiri.

Saat menghadapi kebuntuan, coba tiga langkah ini:

  1. Hitung biaya menunggu. Perkirakan berapa yang hilang per minggu jika masalah ini dibiarkan sebulan lagi.
  2. Pasang tenggat. Beri diri Anda batas, misalnya 48 jam, untuk mengumpulkan data, lalu putuskan. Angka 48 jam hanyalah patokan praktis, sesuaikan dengan beratnya keputusan.
  3. Bedakan jenis keputusan. Keputusan yang bisa dikoreksi, seperti harga menu atau jadwal shift, sebaiknya cepat diambil. Keputusan yang sulit dibatalkan, seperti memberhentikan orang, memerlukan data dan pertimbangan lebih, tapi tetap dengan tenggat.

Dan satu tambahan: keputusan yang sudah diambil pun perlu tanggal tinjau ulang.

Menahan harga bulan ini mungkin tepat. Menahannya tanpa pernah meninjau lagi adalah soal lain.

Bisnis tidak bertumbuh karena kita berharap semuanya membaik sendiri.

Keputusan penting apa di usaha Anda yang terus Anda tunda sejak bulan lalu, dan apa alasan jujurnya?

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *